Presiden Donald Trump mengungkapkan perang AS melawan Iran berpotensi berlangsung empat hingga lima minggu atau lebih lama, sambil mengakui korban jiwa AS sudah mencapai enam prajurit tewas. Pernyataan ini disampaikan di tengah Hari ke-4 konflik yang dimulai akhir Februari 2026, dengan Operasi Epic Fury yang menargetkan rudal balistik, angkatan laut, dan program nuklir Iran. Trump menyebut ini “kesempatan terakhir terbaik” untuk hancurkan ancaman Iran, meski kritik muncul dari Kongres soal otorisasi perang.
Awal Serangan AS-Israel
Konflik pecah 28 Februari 2026 saat AS dan Israel serang simultan target di Iran, termasuk kompleks Ayatollah Ali Khamenei di Teheran yang tewaskan 49 pemimpin senior IRGC. Lebih dari 1.250 target hancur dalam 48 jam pertama, termasuk fasilitas rudal, drone, dan angkatan laut Iran dengan sembilan kapal tenggelam. Trump klaim Iran tolak kesepakatan nuklir meski negosiasi panjang, dan rudal mereka segera ancam AS langsung.
Korban AS dan Serangan Balasan Iran, Komentar Trump
Korban AS naik jadi enam prajurit tewas di Kuwait, empat di pusat operasi taktis yang kena drone Iran, plus dua jenazah ditemukan kemudian. Delapan belas prajurit luka serius, termasuk insiden friendly fire Kuwait yang jatuhkan tiga jet F-15 AS. Iran balas dengan ratusan rudal dan drone ke Israel (11 tewas), Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE, dan Saudi—termasuk serang Kedubes AS Riyadh dan hotel evakuasi di Bahrain yang tewaskan satu pekerja pelabuhan. Trump janji balas dendam atas korban, bilang “kami siap perang selamanya” dengan stok senjata tak terbatas.
Korban Iran dan Respons Regional
Iran laporkan 787 tewas per Red Crescent, termasuk serangan sekolah dan rumah sakit yang diklaim Pezeshkian langgar hukum humaniter. Serang juga Beirut dan Lebanon selatan oleh Israel, yang siapkan pasukan darat. Negara Teluk seperti Qatar (90 rudal dicegat), Kuwait (178 rudal), dan UAE tutup bandara sementara, evakuasi warga AS dari enam negara. Eropa seperti Italia dan Prancis protes tak diberi tahu sebelum serangan.
Kontroversi Domestik AS
Trump kirim notifikasi War Powers ke Kongres, tapi Demokrat seperti Sen. Mark Warner sebut “perang pilihan” tanpa ancaman iminen. Republikan seperti Massie dan Paul kritik kurang otorisasi Kongres. Hegseth bilang tujuan: hancurkan rudal, angkatan laut, cegah nuklir Iran. Trump tak tutup opsi pasukan darat, meski gas AS naik 30 sen/galon akibat harga minyak melonjak.
Dampak Global dan Prospek
Zelenskyy Ukraina puji sebagai pelajaran bagi Rusia atas drone Shahed Iran. ICRC khawatir konflik luas lumpuhkan bantuan sipil. Trump klaim operasi “jauh di depan jadwal,” tapi tak ada rencana akhir jelas, dengan potensi eskalasi Lebanon atau Teluk. Dunia pantau apakah rezim Iran runtuh atau perang berkepanjangan.